Tampilkan postingan dengan label Borobudur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Borobudur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Desember 2010

Asal usul nama Borobudur

PENDAHULUAN
A. Alasan Memilih Judul
Yang menjadi alasan memilih judul dalam karya tulis yang berjudul “ Candi Borobudur “ ini adalah sebagai berikut:
1. Kita sebagai siswa yang masih banyak memerlukan pengetahuan yang perlu di ketahui
2. Sebagai siswa Supaya dapat menggali ilmu Pengetahuan lebih dalam dan mengembangkannya
3. Sebagai siswa tertarik kepada keindahan dan seni budaya bangunan Candi Borobudur
4. Untuk m3engetahui lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Candi Borobudur
B. Batasan Masalah
Agar pembahasan sesuai dengan yang di inginkan penulis dapat tercapai dengan tepat dan benar maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Sejarah Candi Borobudur?
2. Apakah Arti Borobudur?
3. Benda – Benda Apa Saja Yang Ada Di Candi Borobudur?
4. Bagaimana Peranan Candi Borobudur Bagi Obyek Wisata? C. Tujuan Yang Ingin Di Capai
Dengan di buatnya karya tulis ini, penulis mempunyai tujuan pokok yang ingin di capai adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menghayati sejarah berdirinya Candi Borobudur
2. Sebagai siswa harus tahu latar belakang di dirikannya Candi Borobudur
3. Untuk mengetahui makna dan arti yang terkandung dalam komplek bangunan Candi Borobudur
4. Mengetahui peranan Candi Borobudur sebagai objek Wisata
D. Sumber – Sumber Yang Di Gunakan
Sumber – Sumber bahasan yang di gunakan untuk pembuatan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1. Metode Deskriptif: yaitu Metode yang menggambarkan masalah yang ada pada masa sekarang
2. Metode Biografi: Yaitu metode dengan cara meneliti batu – batu majalah dan media lainya
3. Metode Observasi: yaitu penulis terjun langsung ke lapangan untuk penelitian agar mudah mendapat data – data
4. Dan informasi dari beberapa tokoh masyarakat di sekitar Candi Borobudur
BAB II
LATARBELAKANG CANDI BOROBUDUR
A. Waktu Di Dirikan
Banyak buku – buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur akan tetapi kapan Candi Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.
Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah Indonesia pada umumnya dan juga sejrah yang berada di daerah jawa tengah paa khususnya periode antara abad ke – 8 dan pertengahan abad ke – 9 di terkenal dengan abad Emas Wangsa Syailendra kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi yang di lereng – lereng gunung kebanyakan berdiri khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran – dataran adaaalah khas bangunan Budha tapi ada juga sebagian khas Hindu
Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk menjungjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.
B. Penemuan Kembali
Borobudue yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggidi antara dataran rendah di sekelilingnya
Tidak akan pernah mamasuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur pernah mengalami kerusakan
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu yang cukup lama bahkan sampai berabad – abad bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada proses kehancuran. Kira – kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah, waktu yang singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit alam Candi Borobudur dengan batu – batu di bawah pemerintahan yang sangat terkenal yaitu SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800 – an dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahu 930 M pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke timur
Demikian karena terbengkalai tak terurus maka lama – lama di sana – sini tumbuh macam – macam tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada kira – kira abad ke – 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan.
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul dari kegelapan masa silam. Rafles adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M – 1816 M.
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi penghalang pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama Hartman, karen begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan pembersihan lebih lanjut, puing –puing yang masih menutupi candi di sigkirkan dan tanah yang menutupi lorong – lorong dari bangunan candi di singkirkan semua shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.
C. Penyelamatan I
Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali bangunan Candi Borobudur mula – mula hanya dilakukan secara kecil – kecilan serta pembuatan gambar – gambar dan photo – photo reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di adakan pada tahun 1907 M – 1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah untuk menghindari kerusakan – kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun pekerjaan Van Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan dari kerusakan yang lebih besar.
Mengenai gapura – gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah mengembalikan kejayaan masa silam, namun juga perlu di sadari bahwa tahun – tahun yang di lalui borobudur selama tersembunyi di semak – semak secara tidak langsung telah menutupi adan melindungi dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur, Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding – dinding dari bangunan itu tidak sangat membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah akan tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang lebih parah
D. Pemugaran Candi Borobudur
Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga – tenaga muda lulusan SMA dan SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu - batu Candi Borobudur sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu – batu yang sudah retak dan pecah, pekerjaan – pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan – bahan bangunan di tangani oleh kontraktor ( PT NIDYA KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE FILIPINE ).
Bagian – bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.
E. Bangunan Candi Borobudur
a. Uraian Banguan Candi Borobudur
Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3 bangunan Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak – undak dengan tangga naik pada ke – 4 sisinya ( Utara, selatan, Timur Dan Barat ) pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.
Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M
Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M
Pada sudut yang membelok 113 M
Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M
Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar undaknya.
Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam tiga bagian besar di antaranya :
1. Kamadhatu: Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat pada bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah yang melukiskan hukum sebab akibat.
2. Rupadhatu: Sama dengan alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah meninggalkan segala urusan keduniawian dan meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini terdapat pada lorong satu sampai lorong empat
3. Arupadhatu: Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian ini terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan III beserta Stupa Induk.
b. Patung
Di dalam bangunan Budha terdapat patung – patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung – relung : 432 Buah
Sedangkan pada teras – teras I, II, III berjumlah : 72 Buah
Jumlah : 504 Buah
Agar lebih jelas susunan – susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:
1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah : 504 Patung Budha
Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya adalah dalam sikap tangannyayang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patung sikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh karena macam mudra yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan Utara) pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5 kelima mudra it adalah Bhumispara – Mudra Wara – Mudra, Dhayana – Mudra, Abhaya – Mudra, Dharma Cakra – Mudra.
c. Patung Singa
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang juga menghadap ke barat seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.
d. Stupa
- Stupa Induk
Berukuran lebih besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling atas yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga trletak di garis Harmika.
- Stupa Berlubang / Terawang
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana di dalamnya terdapat patung Budha.
Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu
Teras I terdapat 32 Stupa
Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa
Jumlah 72 Stupa
- Stupa kecil
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.
e. Relief
Relief Karmawibhangga bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana bangunan aslinya karena alasan teknis maupun yang lainya maka candi di buatkan batu tambahan sebagai penutup
Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu berjumlah 160 buah pigura yang secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan juga hukuman yang di terima tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya.
Yang di perlihatkan pada relief – relief itu antara lain:
- Gambaran mengenai mulut – mulut yang usil orang yang suka mabuk – mabukan perbuatan – perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa.
- Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong Ziarah ke tempat suci bermurah hati kepada sesama dan lain – lain yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman hidup dan dapat pahala
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari semua masalah tentang sejarah brdirinya Candi Borobudur ini ternyata dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Sejarah Candi Borobudur
Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah dapat diketahui dengan pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.
2. Letak dan Lokasi Candi Borobudur Candi
Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan + 15 km sebelah selatan kota Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di kelilingi pegunungan, pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.
3. Nama Dan Arti Candi Borobudur
Nama Borobudur berasal dari gabungan kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata Sangsekerta berarti “ Vihara” yang berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama ( Menurut Purwacaraka Dan Stuten Herm ) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di Atas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa ( Komplek Candi ) yang terletak di atas bukit
B. Saran – Saran
Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran diantaranya:
1. kita sebagai generasi muda harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2. Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita
3. penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
1. MoerTjipto, Drs Borobudur, Pawon Dan Mendut, Kanisus Yogyakarta 1993
2. Soediman, Drs Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia Gramedia Yogyakarta, 1980
Read full history - Asal usul nama Borobudur

Asal usul nama Borobudur

selama ini aku tahunya borobudur berasal dari bumi sambara budara. ternyata ….
berikut aku copy paste keterangan lebih lengkap dari budhist information network.
Nama aslinya “Dasabhumi Sambhara Budara” yang berarti “Bukit Sepuluh Tingkatan Kerohanian”, yang disingkat menjadi Sambhara Budara, lalu Bharabudara dan dengan logat Jawa menjadi Borobudur.
Borobudur menghadap ke arah Timur dan didirikan di atas bukit pada tahun 826, prasastinya dikeluarkan pada tahun 824.
Pembuatannya dipercayakan kepada seorang arsitek dari India bernama Gunadharma. Dahulu kala Borobudur seluruhnya dicat putih dan berada di tengah-tengah sebuah danau.
Borobudur berukuran 123 X 123 m.; tinggi aslinya 42 m. (ujungnya telah patah ± 8 m.) dan terdiri atas empat bagian:
  1. alas bawah
  2. 5 (lima) lapis lingkaran persegi yang berlekuk sehingga berbentuk segi 20.
  3. 3 (tiga) lapis lingkaran bundar
  4. 1 (satu) stupa besar di tengah-tengah.
Kesemuanya ini melambangkan “Dasa Bhumi” atau 10 (sepuluh) Kesempurnaan (Paramita) yang harus dimiliki oleh seorang Bodhisatva untuk dapat menjadi Buddha.
Lapisan-lapisan yang berbentuk segi 20 diberi serambi, sehingga merupakan lorong-lorong. Dinding serambi-serambi ini, baik di bagian luar maupun di bagian dalam diberi relief-relief (gambar-gambar pahatan) yang mengkisahkan cerita-cerita tertentu. Pada dinding dalam dari lorong pertama terdapat relief-relief tentang riwayat Buddha Gautama berdasarkan naskah “Lalita Vistara”.
Pada dinding luarnya terdapat cerita tentang kelahiran Pangeran Siddharta sebagai Bodhisatva menurut kitab “Jatakumala”.
Pada lorong yang lain terdapat cerita tentang para Bodhisatva lain dari kitab “Gandavyuha”; sedang di kaki candi yang tertutup terdapat lukisan-lukisan yang berhubungan dengan hukum Karma dari kitab “Karma Vibhanga”.
Dari lapisan pertama sampai keempat terdapat patung-patung Dhyani Buddha (masing-masing 92 buah), yaitu:
  1. menghadap ke Timur: Aksobya dengan mudra “Bhumisparsa” (menunjuk bumi sebagai saksi).
  2. menghadap ke Selatan: Ratnasambhava dengan mudra “Vara” atau “Varada” (memberi anugerah).
  3. menghadap ke Barat: Amitabha dengan mudra “Dhyana” (meditasi).
  4. menghadap ke Utara: Amogasidhi dengan mudra “Abhaya” (jangan takut).
Pada baris kelima menghadap keempat jurusan terdapat 64 buah patung dari Dhyani Buddha Vairocana dengan mudra “Vitarka” (meyakinkan).
Pada lingkaran bundar yang terdiri dari 3 lapisan terdapat 72 buah patung Vajrasatva dengan Dharmacakra-mudra dalam stupa-stupa yang dindingnya berlubang. Lubang-lubang stupa pada lapisan kesatu dan kedua (masing-masing 32 buah 24 buah) berbentuk “belah ketupat” sebagai lambang “masih belum dalam keseimbangan sempurna”; pada lapisan ketiga lubangnya berbentuk persegi sebagai lambang “mantap dalam keseimbangan”.
Jumlah patung yang terdapat di Borobudur ialah 368 + 64 + 72 = 504 buah.
Dinding stupa besar ditengah-tengah tidak tembus dan di dalamnya terdapat rongga yang sekarang kosong, yang mungkin sekali dahulu tempat menyimpan relik Sang Buddha.
Ketiga candi di atas setelah selesai, dikeramatkan oleh Puteri dari Raja Samarottungga, yaitu Rajaputri Pramodawardhani pada tahun 843 (prasasti tahun 840). Dari akhir abad ke-15 selama lebih dari 300 tahun lamanya Borobudur ditelantarkan.
Usaha-usaha menyelamatkan candi Borobudur
Pada tahun 1814, Raffles menerima laporan bahwa ada peninggalan purbakala di desa Bumisegoro bernama Borobudur. Pada tahun 1815 atas perintah Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stanford Raffles, opsir zeni Ir. H.C. Cornelius memimpin pembersihan wajah candi yang masih disebut-sebut dalam “Babad Tanah Jawa” seabad sebelumnya. Lebih dari 200 orang penduduk dipaksa kerja rodi selama 45 hari menebang pohon, membabat dan membakar belukar serta mengelupas tanah yang sudah menyelimuti candi yang kakinya sudah terbenam 10 meter ke dalam tanah.
Lalu Borobudur pun terjaga dari tidurnya yang pulas kira-kira 3 abad lamanya. Sayang Raffles tidak dapat meneruskan usahanya karena sudah harus pergi dari Indonesia.
Pada tahun 1835 pekerjaan untuk menyelamatkan candi Borobudur baru dapat dilanjutkan kembali. Seorang seniman Jerman, A. Shaefer, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya mengabadikan Borobudur di atas celluloid. Ada 5.000 foto yang telah dibuatnya, yang kemudian dilanjutkan dengan penggambaran relief-reliefnya di atas kertas oleh F.C. Wilson dan Schonberg Mulder, dari tahun 1849 s/d tahun 1953.
Pada tahun 1873 monografi pertama tentang Borubudur diterbitkan oleh Museum Purbakala Leiden, Negeri Belanda. Pada tahun itu pula seorang ahli potret kenamaan, I. van Kinsbergen diberi tugas untuk memperbaharui potret-potret Borobudur. Karena sangat telitinya kerja I. van Kinsbergen (dia sendiri ikut membersihkan sudut-sudut candi), 200 relief yang selama ini terpendam dalam tanah ikut tersingkap.
Pada tahun 1885 kaki candi yang ditelan bumi itu “ditemukan” oleh J.W. Ijzerman. Ternyata di belakang kaki candi yang nampak masih ada lagi kaki candi lain yang dihiasi pahatan relief. Kaki yang tersembunyi ini diabadikan oleh Cephas selama setahun (1890-1891), yang untuk itu 12.500 meter kubik batu dipindahkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Penemuan ini penting artinya, yang disebut “Kamadhatu” (lingkaran hawa nafsu) yang sebelumnya tersembunyi dari pandangan mata. Seratus enam puluh panel dalam lingkaran “Hawa Nafsu” itu menggambarkan ajaran Karma (Hukum sebab dan akibat setiap perbuatan baik dan buruk), sebagaimana tertera dalam kitab “Karma-vibhanga”.
Pada tahun 1834 Residen Kedu melakukan pemugaran secara tambal-sulam dan memerintahkan pembersihan lebih lanjut agar wajah candi kelihatan lebih cantik. Batu-batu yang berserakan di sekeliling candi disingkirkan ke kaki bukit, sedangkan stupa-stupanya dibenarkan letaknya.
Pada tahun 1844 stupa induknya diperbaiki, namun ia pun melakukan perbuatan yang merusak, yaitu :
  1. di atas candi Borobudur diberi bangunan bambu sebagai tempat para pembesar Belanda dan nyonya mereka minum teh dengan santai sambil menikmati panorama senja tatkala sang surya berpamitan dengan seisi bumi.
  2. tatkala seorang Raja Siam (Thailand) datang pada pertengahan abad ke 19, Residen Kedu menghadiahkan kepada Beliau delapan gerobak batu-batu candi Borobudur dan lima puluh relief, di samping lima patung Sang Buddha sendiri, dua patung singa penjaga candi, satu pancuran berwujud “Makara” (kepala gajah bertanduk kambing, bertelinga kerbau dengan singa mini di dalam moncongnya), sejumlah kepala “kala” (raksasa dan ‘dewa waktu’ dalam mitologi Jawa) dari pangkal tangga dan gapura, serta sebuah patung raksasa dari bukit sebelah Barat-Laut candi Borobudur.
Hampir saja pengrusakan elemen-elemen Borobudur itu makin menjadi-jadi, ketika para ahli di negeri Belanda mengusulkan agar relief-reliefnya dipindahkan saja ke Museum Leiden, mengingat kondisi candi yang semakin rusak. Untunglah gagasan itu ditentang oleh kalangan ahli sendiri, sehingga tidak jadi dilaksanakan.
Pada tahun 1900 setelah dokumentasi dan penelitian dianggap memadai, oleh Pemerintah Belanda dibentuk panitia khusus untuk pemugaran Borobudur yang diketuai oleh Dr. J.L.A. Brandes.
Seperti halnya operasi pertama pada zaman Raffles, kembali seorang opzir zeni, Letnan Ir. Th. van Erp memainkan peranan utama sebagai penyelamat candi Borobudur.
Ada tiga hal yang dibebankan kepada Ir. van Erp dalam usaha menyelamatkan Borobudur:
  1. menanggulangi bahaya runtuh dengan cara memperkokoh sudut-sudut bangunannya, menegakkan kembali dinding-dinding yang miring pada teras (tingkat) pertama, serta memperbaiki gapura, relung dan stupa, termasuk stupa induk.
  2. mengekalkan keadaan yang sudah diperbaiki itu dengan pengawasan yang ketat dan pemeliharaan yang cermat. Untuk itu saluran airnya perlu disempurnakan dengan jalan memperbaiki lantai lorong dan pancuran air.
  3. memperlihatkan bangunan candi sejelas-jelasnya, bersih dan utuh.
Seluruh pekerjaan pemugaran yang dimulai pada tahun 1907 baru selesai empat tahun kemudian dengan menelan biaya 100.000 gulden.
Ir. van Erp pun telah membuat satu “warning-system” (petunjuk pengaman), yakni lapisan beton pengaman di antara 2 buah batu pada bagian dinding yang paling miring di sebelah Barat, tangga Utara tingkat pertama. Bilamana sambungan itu patah, maka Borobudur berada dalam keadaan bahaya.
Pada bulan Januari 1926 dapat diketahui adanya kerusakan yang disengaja oleh turis asing yang ingin menyimpan tanda mata dari Borobudur. Peristiwa ini menjadi pendorong bagi penelitian yang lebih intensif terhadap batu-batu dan terutama relief-relief candi. Nyatanya banyak relief yang menampakkan tanda-tanda retak. Tangan jahil? Bukan! Setelah diamati dan dibanding-bandingkan kiri kanan, ternyata bukan karena tangan jahil, melainkan karena suhu yang sangat cepat berganti; dari panas yang menyengat kemudian disusul hujan terus-menerus. Ternyata dari 120 panel relief “Lalita Vistara” yang menceritakan riwayat Sang Buddha sejak direncanakan lahir di sorga Tusita sampai khotbahnya yang kesohor di Benares, ada 40 yang rusak.
Pada tahun 1929 dibentuk panitia baru untuk melakukan pengamatan dan pengamanan. Dari hasil penyelidikan panitia, diketahuilah penyebab kerusakan, yakni: korosi kimiawi, kerja mekanis dan kekuatan tekanan.
Korosi disebabkan oleh pengaruh iklim yang merusak batu-batu candi yang jelek kwalitasnya. Lapisan oker kuning yang dulunya dimaksudkan meratakan warna relief untuk keperluan pemotretan, ternyata berhasil melindungi batu-batu yang keras. Tetapi terhadap batu-batu yang lunak akibatnya jadi lain, yaitu pengelupasan. Cendawan dan lumut terang menambah korosi pula. Namun, sebab pokok korosi yang paling sadis adalah derasnya air yang merembes ke luar bangunan candi melalui celah-celah dan pori-pori batu-batuan candi itu sendiri.
Adapun kerusakan mekanis terutama disebabkan oleh tangan dan kaki manusia atau penyebab lainnya di luar candi.
Kerusakan lain ialah, karena tekanan bobot batu-batuan candi itu sendiri.
Pada tahun 1965 atas prakarsa Menteri P & K, Ny. Artati M. Sudirdjo S.H., maka untuk mencegah kerusakan yang lebih fatal, telah dilakukan pembongkaran atas dinding-dinding Utara dan Barat yang miring oleh Dr. R. Soekmono.
Pada tahun 1967 Dr. R. Soekmono ketika mengikuti Kongres Orientalis International di Ann Arbor (AS) minta perhatian kongres atas nasib Borobudur. Unesco tertarik pada nasib Borobudur dan berjanji untuk memberi bantuan.
Pada tahun 1968 Pemerintah RI membentuk Panitia Nasional Penyelamat Borobudur dan beberapa ahli luar negeri dihubungi, a.l.:
  1. Prof. C. Voute, ahli geologi kenamaan.
  2. Dr. G. Hyvert, ahli pengawetan patung dan relief
  3. Prof. Bernard Philipe Groslier, arkeolog Prancis kenamaan yang namanya tidak dapat dipisahkan dari penyelamatan candi Angkor di Kamboja.
Pada bulan Juni 1971 Panitia Pemugaran Borobudur dibentuk dengan diketuai oleh Prof. Ir. R. Roosseno didampingi oleh Dr. R. Soekmono. Pada tahun ini pula Dirjen Unesco, Rene Maheu datang ke Indonesia untuk menandatangani bantuan Unesco sebesar US $ 6 juta dari biaya pemugaran yang diperkirakan US $ 7,75 juta, (menurut perkiraan tahun 1975 biaya tersebut telah membubung sampai US $ 16 juta).
Pada tanggal 11 Agustus 1973 Borobudur mulai dipugar dengan mengikut-sertakan ahli-ahli dari Unesco, Lembaga Purbakala, Fak. Sastra UI, Dept. Geologi ITB dan Fak. Teknik & Pertanian UGM.
Menurut perkiraan, pemugaran Borobudur akan memakan waktu 8 tahun.
Keterangan relief-relief tentang riwayat Buddha Gautama menurut naskah “Lalita Vistara”.
Dapat dilihat di lorong pertama (bagian Rupadhatu) pada dinding sebelah dalam
Dari pintu Timur sampai ke pintu Selatan
  1. Sang Bodhisatva di sorga Tusita sedang menerima penghormatan dari para dewa dengan berbagai alat musik.
  2. Sang Bodhisatva memberitahukan para dewa tentang keinginannya turun ke dunia menjadi Buddha dan untuk memberi bimbingan kepada mereka yang telah tersesat dan menolong mereka ke Jalan Yang Benar.
  3. Seorang Brahmana mengajar para muridnya tentang kebijaksanaan duniawi dan memberitahukan kepada mereka bahwa dua belas tahun kemudian akan turun ke dunia se-Orang Buddha yang akan membebaskan umat manusia dari Samsara (lingkaran tumimbal-lahir).
  4. Para Pratyeka Buddha, setelah mendengar tentang akan turunnya Bodhisatva ke dunia terbang ke sorga untuk menyambut dan mengiringinya.
  5. Sang Bodhisatva mengajar para dewa tentang Dhamma.
  6. Sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia, terlebih dulu Beliau menyerahkan Mahkotanya (Tyara) kepada penggantinya, yaitu Bodhisatva Maitreya.
  7. Bodhisatva Maitreya mengajar Dharma kepada para dewa.
  8. Raja Suddhodana bersukia cita dengan permaisurinya, Ratu Maya Dewi, di istana Kapilavastu.
  9. Para bidadari mengunjungi Ratu Maya Dewi di istana.
  10. Para dewa mempersiapkan diri untuk mengiringi Sang Bodhisatva turun ke dunia.
  11. Dihormati untuk terakhir kali di sorga Tusita sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia.
  12. Di pavilyun Sri Garbha, Sang Bodhisatva duduk bermeditasi dan selanjutnya turun ke dunia diusung oleh para dewa.
  13. Ratu Maya Dewi, sewaktu tidur di istana, bermimpi seekor gajah putih memasuki perutnya dan kemudian Ratu menjadi hamil.
  14. Sang Ratu tidak usah kuatir karena Dewa Cakra melindunginya.
  15. Sang Ratu pergi ke taman Asoka untuk menemui Raja Suddhodana.
  16. Raja Suddhodana tiba di taman Asoka dengan menunggang gajah.
  17. Raja Suddhodana berjumpa dengan Sang Ratu di serambi. Sang Ratu menceritakan mimpinya dan bertanya tentang arti mimpi tersebut.
  18. Karena Raja Suddhodana tidak dapat menerangkan arti mimpi Sang Ratu, maka beliau minta pendapat dari seorang brahmana yang bernama Asita. Asita menerangkan bahwa Ratu akan hamil dan akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Putera ini mempunyai bakat menjadi seorang pemimpin dunia.
  19. Raja Suddhodana gembira sekali mendengar ramalan tersebut dan memberikan hadiah yang berlimpah-limpah kepada Asita dan para brahmana lainnya.
  20. Para dewa yang mendengar berita yang menggembirakan ini membangun tiga buah istana untuk Ratu Maya Dewi.
  21. Para dewa telah membuat Ratu Maya Dewi serempak terlihat di tiga alam.
  22. Sebelum bayi dilahirkan, Ratu telah melakukan hal-hal mujizat : beliau dapat menyembuhkan orang-orang sakit dan orang-orang yang cacat badannya.
  23. Raja Suddhodana memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang miskin.
  24. Raja Suddhodana memberikan khotbah di hadapan para wanita.
  25. Satu hal yang aneh terjadi sewaktu Raja sedang bermeditasi : seekor anak gajah masuk ke istana dan memberi hormat kepada Raja.
  26. Persiapan untuk mengunjungi taman Lumbini.
  27. Ratu dengan kereta menuju ke taman Lumbini. Setelah tiba, kereta berhenti dan Ratu dengan gembira berjalan-jalan di taman.
  28. Di taman Lumbini dengan berdiri berpegangan pada cabang pohon Sal, Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki.
    Segera setelah dilahirkan, Sang Bayi dapat berjalan tujuh langkah dan di atas tiap tapak kaki muncul bunga teratai.
  29. Setelah Ratu meninggal dunia, Sang Pangeran diasuh oleh bibinya yang bernama Pajapati. Sang Pangeran diberi nama Siddharta.
  30. Pangeran Siddharta di pangkuan ibu tirinya.
Dari pintu Selatan sampai ke pintu Barat.
  1. Seorang Brahmana bernama Asita mengunjungi Pangeran Siddharta.
  2. Dewa-dewa dari alam Suddhavasa mengunjungi Pangeran Siddharta.
  3. Para penduduk yang kaya-kaya mempersembahkan hadiah-hadiah kepada Pangeran Siddharta.
  4. Pangeran Siddharta pergi ke vihara untuk mendapatkan pendidikan.
  5. Setibanya di vihara, gurunya pingsan melihat wajah Sang Pangeran yang demikian cemerlang.
  6. Sang Pangeran berhias dengan memakai berbagai macam permata.
  7. Para penduduk memberi hormat kepada Sang Pangeran.
  8. Pangeran Siddharta dan gurunya di ruang belajar.
  9. Pangeran Siddharta mengunjungi desa-desa untuk melihat sendiri penghidupan rakyatnya di desa.
  10. Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon jambu.
  11. Para sesepuh di istana Kapilavastu mendesak Pangeran Siddharta untuk menikah.
  12. Sang Pangeran minta para gadis dari Kapilavastu untuk datang ke istana. Pilihannya ternyata jatuh kepada Yasodhara. Untuk menghibur gadis-gadis lain yang kecewa, Sang Pangeran membagi-bagikan hadiah.
  13. Menurut kebiasaan pada zaman itu, sebelum upacara perkawinan dilaksanakan, terlebih dulu calon pengantin pria harus membuktikan kemampuannya secara fisik maupun mental. Oleh karena itu Sang Pangeran diharuskan mengambil bagian dalam satu sayembara.
  14. Devadatta, saudara sepupu dari Sang Pangeran, juga turut dalam sayembara tersebut. Ia harus berkelahi dengan seekor gajah yang besar. Gajah tersebut dibunuhnya dengan sekali pukul dan sekali tendang.
  15. Pada relief hanya terlihat roda kereta dan seorang prajurit.
    Pangeran Siddharta dengan duduk di kereta menyeret bangkai gajah itu dengan kaki kiri ke luar kota sejauh delapan yojana (1 yojana = 8 mil).
  16. Pangeran Siddharta dicoba kemurniannya dengan digoda wanita-wanita cantik.
  17. Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menunggang kuda).
  18. Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menggunakan pedang).
  19. Sayembara memanah batang pohon Tala. Hanya Pangeran Siddharta yang lulus dalam pertandingan ini; anak panahnya menembus batang pohon Tala dan menghilang di tanah.
  20. Pernikahan dari Pangeran Siddharta dengan Putri Yasodhara diberkahi.
  21. Puteri Yasodhara memasuki istana setelah menikah.
  22. Di istana, mempelai disambut dengan musik.
  23. Pangeran Siddharta mendapat petunjuk dari para dewa untuk meninggalkan istana.
  24. Untuk mencegah agar Pangeran Siddharta jangan meninggalkan istana, Raja Suddhodana memerintahkan untuk mendirikan istana-istana untuk Sang Pangeran dengan dilayani oleh wanita-wanita cantik.
  25. Pangeran Siddharta sedang dimanjakan oleh wanita-wanita.
  26. Pangeran Siddharta melihat seorang tua renta.
  27. Pangeran Siddharta melihat orang sakit keras.
  28. Pangeran Siddharta melihat orang mati.
  29. Pangeran Siddharta melihat seorang pertapa.
  30. Pangeran Siddharta mendapat impian buruk.
Dari pintu Barat sampai ke pintu Utara
  1. Pangeran Siddharta mohon diri dari ayahnya, Raja Suddhodana.
  2. Raja Suddhodana tidak memperkenankan Sang Pangeran pergi bertapa dan memerintahkan kepada wanita-wanita cantik untuk terus menghibur Sang Pangeran.
  3. Tengah malam wanita-wanita yang menghibur Pangeran Siddharta telah tertidur. Lalu Pangeran Siddharta yang merasa jemu sekali, membulatkan tekad untuk meninggalkan istana.
  4. Pangeran Siddharta memanggil kusirnya yang bernama Channa dan memerintahkan untuk menyiapkan kudanya, Kanthaka.
  5. Pangeran Siddharta melakukan perjalanan jauh untuk mulai bertapa.
  6. Sampai di tempat tujuannya, Pangeran Siddharta mengucapkan selamat berpisah kepada para dewa yang mengiringinya.
  7. Pangeran Siddharta memotong rambutnya.
  8. Pangeran Siddharta menukar pakaiannya dengan jubah seorang pertapa.
  9. Para dewa memberi hormat kepada Pangeran Siddharta.
  10. Pangeran Siddharta tiba di pertapaan Padmapani.
  11. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa bernama Uddaka Ramaputra.
  12. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa lain yang bernama Alara Kalama.
  13. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat Raja Bimbisara di Rajagaha.
  14. Raja Bimbisara berkunjung ke tempat Pangeran Siddharta.
  15. Pangeran Siddharta berkunjung ke Gunung Gaya dan bertemu dengan para pertapa dari tempat tersebut.
  16. Para pertapa tersebut di atas berkunjung kepada Pangeran Siddharta.
  17. Pangeran Siddharta berbincang-bincang dengan para pertapa tentang persoalan “Pañña” (Kebijaksanaan). Karena berselisih pendapat, para pertapa meninggalkan Pangeran Siddharta.
  18. lbunda Pangeran Siddharta, yaitu Ratu Maya Dewi almarhumah, turun ke dunia dari sorga untuk membujuk anaknya mengakhiri penyiksaan diri dan makan minum seperti biasa lagi agar dapat memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.
  19. Para dewa mendesak Pangeran Siddharta untuk kembali makan dan minum.
  20. Pangeran Siddharta mengajar para dewa.
  21. Seorang wanita bernama Sujata mempersembahkan bubur kepada Pangeran Siddharta.
  22. Pangeran Siddharta mempersiapkan diri untuk mandi.
  23. Pangeran Siddharta menukar pakaian.
  24. Para wanita dari Uruvela mempersembahkan makanan kepada Pangeran Siddharta.
  25. Pangeran Siddharta pergi ke tepi sungai Nairanjara dengan membawa jubahnya yang sudah bekas pakai.
  26. Pangeran Siddharta membuang jubahnya ke sungai.
  27. Jubah tersebut diterima oleh Raja Naga Mucilinda.
  28. Pangeran Siddharta menerima makanan dari Mucilinda.
  29. Pangeran Siddharta memberi berkah kepada Mucilinda.
  30. Pangeran Siddharta minta diberi rumput yang empuk untuk duduk.
Dari pintu Utara sampai pintu Timur
  1. Pangeran Siddharta dalam perjalanan ke Buddha Gaya.
  2. Pohon Bodhi diberi penghiasan.
  3. Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon Bodhi.
  4. Mara, iblis yang jahat, datang mengganggu Pangeran Siddharta dan mengancam untuk membunuhnya.
  5. Mara mengirim anak-anaknya berupa wanita-wanita yang cantik sekali untuk menggoda Pangeran Siddharta.
  6. Mara mencoba membujuk Pangeran Siddharta dengan membisikkan godaan di telinganya.
  7. Godaan-godaan oleh Mara dengan memakai kekuatan gaib dan wanita-wanita cantik. Sang Pangeran duduk dengan sikap Bhumisparsa-Mudra.
    (simbol dari tekad yang bulat).
  8. Para dewa membasuh Pangeran Siddharta dengan air suci.
  9. Pangeran Siddharta berhasil mencapai Penerangan Agung; Mara tidak berhasil menggagalkan usaha Pangeran Siddharta. Sekarang Pangeran Siddharta menjadi Buddha (Beliau memakai sikap Abaya-Mudra = Jangan Takut).
  10. Buddha Gautama mendapat tempat duduk di taman Rusa.
  11. Raja Naga Mucilinda menjumpai Buddha Gautama.
  12. Para pertapa dari Bodhi-manda minta diberi berkah oleh Buddha Gautama.
  13. Buddha Gautama mengajar cara melakukan Samadhi (Beliau memakai Dhyana-Mudra = Sedang Bermeditasi).
  14. Para raja mempersembahkan makanan kepada Buddha Gautama dan mereka diberi pelajaran tentang “Bermurah hati”. (Beliau memakai Vara-Mudra = Memberi Anugerah).
  15. Buddha Gautama sedang memberi pelajaran Dhamma.
  16. Buddha Gautama berkunjung ke kota Savatthi untuk mengajar Dhamma.
  17. Buddha Gautama berkunjung ke Uruvela untuk mengajar Dhamma.
  18. Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Uddaka Ramaputra.
  19. Buddha Gautama berkunjung ke Raja Bimbisara di Rajagaha.
  20. Buddha Gautama berkunjung ke para pertapa.
  21. Buddha Gautama bertemu dengan para dewa.
  22. Buddha Gautama mengunjungi sebuah kota dan dijamu makan.
  23. Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Alara Kalama.
  24. Buddha Gautama berkunjung ke kota Maghada dan disambut dengan upacara yang meriah.
  25. Dalam perjalanan ke Benares, Buddha Gautama menyeberangi sungai Gangga dengan terbang di atas air.
    (Tukang perahu penyeberang tidak mau menyeberangkan Buddha Gautama tanpa pembayaran lebih dulu. Sebelum tukang perahu mengetahui apa yang terjadi, Buddha Gautama sudah ada di seberang sungai).
  26. Buddha Gautama sedang dijamu.
  27. Di sebuah bukit bernama Gaya, Buddha Gautama berjumpa kembali dengan para pertapa yang dulu telah meninggalkannya. Sekarang mereka menjadi murid Buddha Gautama.
  28. Buddha Gautama diberi hormat oleh para pertapa lain.
  29. Buddha Gautama diperciki air suci oleh para dewa.
  30. Buddha Gautama memberi khotbah di taman Rusa, dekat Benares.
Read full history - Asal usul nama Borobudur